Memaksimalkan Amalan di Bulan Ramadhan.

RAMADHAN  telah tiba menghampiri kita kembali. Pertemuan dengan bulan Ramadan merupakan suatu kenikmatan dari Allah swt yang tiada tara. Ada beberapa sikap yang ditampilkan oleh manusia ketika menghadapi saum Ramadan. Sikap-sikap tersebut terkandung dalam QS. Al-Baqarah ; 183 :

Wahai orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu saum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Selamat berpuasa

Ada beberapa sikap yang harus dilakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadan. Di antara sikap-sikap tersebut antara lain :

1. Berdoa pada Allah agar bisa memasuki bulan Ramadan dengan kondisi yang baik. Hal ini dibuktikan oleh Rasul SAW dan para sahabatnya, mereka sudah memanjatkan doa sejak bulan Rajab. Dalam salah satu haditsnya, Rasul pernah berdoa “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami untuk masuk bulan Ramadan.” (HR.Ahmad & Thabrani dari Anas bin Malik)

Selain itu ada juga doa yang biasa dipanjatkan oleh Rasul SAW ;

Ya Allah selamatkanlah diriku untuk (mengisi) bulan Ramadan, dan selamatkanlah bulan Ramadan untukku, dan selamatkan pula segala ibadahku sebagai ibadah yang diterima.” (HR.At-Tirmidzi).

2. Bersyukur atas nikmat Ramadan yang telah diberikan oleh Allah swt.

Makna syukur ini merupakan bentuk ekspresi kegembiraan manusia ketika diberi kesempatan kembali oleh Allah untuk memanfaatkan momentum ibadah saum Ramadan dengan semaksimal mungkin. Imam Nawari dalam kitabnya “al-Adzkaar” menyebutkan bahwa jika seseorang diberi kebahagiaan, maka dia wajib untuk mensyukurinya.

3. Bergembira dengan datangnya Ramadan. Sikap kegembiraan ini merupakan indikator keimanan seseorang. Sikap ini pula yang menunjukkan bahwa orang tersebut mengetahui dengan yakin segala yang terkandung dalam bulan Ramadan seperti halnya: penuh keberkahan, akan dibukakan pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan sebagainya.

4. Merancang agenda kegiatan Ramadan. Perencanaan yang matang menunjukkan perhatian yang penuh terhadap bulan Ramadan sekaligus berusaha mengefektifkan waktu yang hanya sebentar (1 bulan) sehingga kualitas amal merupakan fokus utama. Rancangan kegiatan ini bisa berlaku untuk individu, keluarga, lingkungan kerja, tempat tinggal, dan sebagainya.

5. Menyiapkan ilmu seputar amalan-amalan Ramadan serat mendakwahkannya. Setiap amalan tentu harus sesuai dengan landasan ilmunya. Kesesuaian hal tersebut akan menentukan diterimanya amal oleh yang menghendaki (Allah swt). QS. Al-Anbiya : 7 ; “Bertanyalah kalian kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.”

6. Menyambut Ramadan dengan berusaha meninggalkan perbuatan dosa dan amal buruk lainnya. Memang bisa dirasakan bahwa peluang seseorang untuk berbuat dosa di bulan Ramadan itu kecil. Tapi jangan dilupakan juga untuk bisa meninggalkan segala hal yang kurang bermanfaat.

7. Menyambut Ramadan dengan semangat baru. Suasana baru akan dirasakan dan ditemukan pada bulan Ramadan bila dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya. Karena itu dengan suasana Ramadan ini, sikap-sikap yang perlu ditingkatkan di antaranya: kepada Allah swt dengan bertaubat, kepada Rasul SAW dengan mengamalkan sunnahnya, kepada keluarga dengan banyak bershilaturahim, dan kepada ummat secara keseluruhan dengan memberikan kemanfaatan (khairunnas anfa’uhum linnaas..sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat di antara mereka).

Bulan Ramadan bagi ummat Islam bermakna sebagai bulan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud tentu dalam arti hakiki. Di antara argumen bulan kemenangan tersebut antara lain :

Pertama, kemenangan atas nafsu manusia. saum memiliki arti al-Imsak / al-Habsu yang berarti menahan. Sebagai contoh adalah menahan dari makan/minum di siang hari, itu berarti seorang yang saum dia bisa memenangkan dirinya melawan nafsu. Makanan yang halal, istri/suami yang halal saja bisa ditahan, apalagi segala sesuatu yang sudah pasti ketidakhalalannya. Hanya permasalahannya, usaha menahan nafsu ini harus bersifat total.

Kedua, kemenangan atas syetan. Bulan Ramadan identik dengan peningkatan amal ibadah, hal ini menunjukkan grafik keimanan orang Islam pada bulan ini naik. Pengamalan ibadah yang intensif menunjukkan fenomena sebaliknya, dalam arti gangguan syetan bisa dikalahkan. Perbuatan maksiat bisa dihindari dan dijauhkan oleh orang yang saum. Apalagi kalau memperhatikan hadits di atas yang menyatakan bahwa pada saat bulan Ramadan syetan-syetan dibelenggu dan pintu neraka semuanya ditutup.

Ketiga, pahala akan dilipatgandakan. Ramadan juga dikenal dengan bulan penuh pelipatgandaan pahala dan berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Jika seseorang mengamalkan amalan sunnat, maka pahalanya akan disamakan dengan pahala wajib. Serta jika seseorang mengamalkan amalan wajib, maka pahalanya akan dilipatgandakan menjadi 10 kali bahkan 700 kali lipat.

Keempat, dosa-dosa akan diampuni. Sesuai dengan makna Ramadan (panas/terik/membakar), maka hakikatnya saum Ramadhan akan memberikan hikmah dibakarnya atau dihanguskannya dosa-dosa orang yang saum. Janji Rasul SAW dalam beberapa haditsnya disebutkan bahwa “Siapa pun yang saum di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap rida Allah, maka ia akan diampuni segala dosa-dosanya yang telah lewat.” (HR.Bukhari-Muslim). Dalam hadits lain yang serupa bentuk amalnya itu adalah melaksanakan qiyamu Ramadan, dan lain-lain.

Kelima, doa-doa orang yang saum akan dikabulkan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dari Sahabat Abu Hurairah ra, Rasul SAW pernah menyatakan bahwa ada tiga golongan orang yang doanya mustajab, yaitu: pemimpin yang adil, orang yang saum sampai berbuka, dan doanya orang yang dianiaya.

Keenam, adanya bonus Lailatul Qadr. Ibn Katsir berpendapat bahwa keutamaan Lailatul Qadr kalau dikonversikan ke dalam usia manusia sama dengan 83 tahun 3 bulan, artinya jika seseorang bisa beramal tepat pada malam tersebut, maka ia seolah telah beramal seukuran dengan amalan seseorang selama 1000 bulan. Subhanallah.

Ketujuh, mengejar level ketaqwaan. Tujuan dari saum hakikatnya adalah menggapai ketaqwaan. Uniknya, ketika Allah menyatakan bahwa ketaqwaan yang hendak dicapai oleh orang beriman dalam QS.Al-Baqarah : 183 menggunakan bentuk fi’il Mudhari yang bermakna lil istimraar (kontinuitas beramal). Pada akhirnya Allah menjajikan surga, keridaan, kemuliaan hanya bagi orang-orang yang bertaqwa.

Kita mengharapkan semoga Ramadan 1432 H ini merupakan Ramadan yang terindah & terbaik sepanjang hidup kita karena kita belum pasti akan bisa merasakan lagi Ramadan-Ramadan berikutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>